RS KARIADI

RS KARIADI

 

Kisah berdirinya Rumah Sakit Dr. Kariadi 

Oleh : Flavia Stella Wijaya (SMPN 5 Semarang)

Siapa dia Kariadi? Apakah dia Seorang pahlawan? Ataukah, hanya seorang dokter biasa yang namanya besar abadi di masyarakat luas kota Semarang?. Yang konon, cerita masa hidupnya tidaklah seperti seorang pahlawan. Akan tetapi, tidak sedikit juga masyarakat kota Semarang mengatakan bahwa, Kariadi merupakan dokter sekaligus pejuang Indonesia yang gugur dalam pertempuran lima hari di Kota Semarang. Kariadi memiliki nama asli yaitu Kariadi Moeljadi Djojo, lahir di Kota Malang, 15 September 1905. Kariadi mengenyam pendidikan di sekolah Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) atau sekolah kedokteran untuk pribumi di Surabaya. Pada tanggal 1 Juli 1942,  Dr. Kariadi diberi tanggung jawab lebih besar, yaitu sebagai Kepala Laboratorium Malaria di Rumah Sakit Purusara (sekarang disebut sebagai Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi) Keterlibatan Kariadi dalam Pertempuran Lima Hari yang terjadi di Semarang, mengakibatkan ia harus terus bekerja sebagai Kepala Laboratorium Malaria hingga tahun 1945. Tepat di tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, pada 17 Agustus 1945. Tidak lama setelah proklamasi diumumkan, perang kemerdekaan terjadi di berbagai kota, termasuk Semarang.

 

14 Oktober 1945 adalah tanggal dimulainya peristiwa pertempuran Lima hari di Semarang. Pertempuran ini dilatarbelakangi oleh pasukan Jepang yang tidak menerima kekalahannya kepada sekutu, dan diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pasukan Jepang membalas dengan cara tidak memberikan senjata kepada para pemuda Semarang. Mengetahui hal tersebut, para pemuda merasa marah dan merasa telah dibodohi oleh pasukan Jepang. Untuk merancang rencana baru, para pemuda menggunakan Aula Rumah Sakit Purusara sebagai markas mereka. Masih pada saat yang sama, para pemuda mendapat instruksi supaya mereka mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang melintas di depan Rumah Sakit Purusara. Sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang dengan bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus merampas senjata dari delapan anggota polisi istimewa yang saat itu sedang menjaga sumber air minum bagi warga Semarang, bernama Reservoir Siranda di Candilama. Kemudian delapan anggota polisi tersebut dibawa ke markas Kidobutai Jatingaleh untuk dilucuti dan disiksa.

Kemudian pada tanggal 14 Oktober, muncul berita bahwa tentara Jepang telah menebar racun ke tandon air Reservoir Siranda. Untuk memastikan kebenaran berita tersebut, pimpinan RS Purusara segera memerintahkan kepada Kariadi untuk pergi mengecek ke tandon air Reservoir Siranda. Awalnya, keberangkatan dokter Kariadi ditentang oleh istrinya drg. Soenarti karena merasa sangat khawatir apabila terjadi sesuatu pada suaminya Kariadi. Tetapi larangan itu justru semakin membuat Kariadi tetap memilih untuk melaksanakan tugasnya, dan begitu menerima perintah dari pimpinan rumah sakit, Kariadi segera berangkat menuju perjalanan. Namun, ditengah perjalanan menuju Reservoir Siranda, mobil yang ditumpanginya dicegat oleh tentara Jepang dan Kariadi pun tewas dibunuh secara keji.

Untuk mengenang dan menghormati Dr. Kariadi, seorang dokter pahlawan nasional Indonesia yang gugur dalam perjuangannya melawan penjajah pada masa pendudukan Jepang, nama Rumah Sakit Purusara diubah namanya menjadi RSUP Dr. Kariadi. Peristiwa ini menjadikan Dr. Kariadi sebagai simbol pengabdian dan pengorbanan dalam mengabdi pada kesehatan masyarakat.

Sumber Rujukan : https://www.kompas.com/stori/read/2021/11/11/140000879/kariadi-dokter-yang-gugur-di-pertempuran-lima-hari-semarang?page=all