Mengenal Moch Ichsan

Mengenal Moch Ichsan

 

 

Mengenal Moch Ichsan, Tokoh Nasional yang menjadi Walikota Semarang

Oleh : Tiffany Putri Ramadhani (SMPN 5 Semarang)

 

    Siapa yang tak kenal Mochammad Ichsan? Namanya diabadikan menjadi nama gedung tertinggi di kompleks balaikota Kota Semarang yang ikonik. Moch Ihsan merupakan tokoh pergerakan revolusi Indonesia yang pada awal kemerdekaan diangkat menjadi Wali Kota pertama Semarang. Lalu bagaimana ia bisa dipercaya?

    Mochammad Ichsan lahir dengan darah pemimpin yang mengalir ditubuhnya. Bagaimana tidak? Ayahnya, R.M.A. Notohamidjojo merupakan pegawai kolonial yang menjabat asisten wendana di Srondol, Semarang yang kemudian menjadi bupati Kendal pada 1914. Kakek dari ayahnya, R.M.A.A. Notonegoro merupakan bupati Kendal 1891-1911. Sedangkan kakek dari ibunya, merupakan bupati Lamongan 1885-1908, R.A. Djojodirono.

    Menempuh pendidikan Belanda di Semarang, ia berhasil menyelesaikan ELS dan HBS pada 1917 dan 1923 lalu melanjutkan kuliahnya di Belanda. Ichsan menjalani kuliah hukum di Universitas Leiden. Studinya sempat tertunda karena aktivitas pergerakannya bersama Perhimpunan Indonesia dan membuatnya berada dalam pengawasan aparat penegak hukum Belanda. Pada 1933, setelah tekanan politik diberikan terhadap keluarganya, beliau kembali memfokuskan diri terhadap pendidikannya dan setahun kemudian lulus sebagai Meester in de Rechten.

     Setelah lulus pendidikan bulan Mei 1934, beliau bekerja pada Gubernur Pemerintah Hindia Belanda sebagai komis redaktur. Pada 11 September 1935 Ichsan menikah dengan R.A. Siti Rochaniah Moetmainah, putri bupati Lamongan R.A.A. Djojoadinegoro dan dikaruniai 2 orang anak bernama Muljadi dan Firman. Pada zaman Jepang 1942, beliau tetap bekerja sebagai birokrat dan diperbantukan di kantor pengadilan Semarang.

    Setelah Proklamasi, penataan pemerintahan di Jawa Tengah mulai diupayakan oleh gubernur Soeroso dan Wongsonegoro. Di Semarang, Mr. Imam Sudjahri, seorang bekas pegawai di kantor penasehat Kota Semarang pada zaman Jepang, diserahi tanggung jawab yang antaranya mencakup tugas-tugas wali kota.

    Barulah pada 8 Januari 1946 pemerintah Republik di Jakarta secara resmi mengangkat Ichsan sebagai Kepala Kota atau Wali Kota Semarang (sementara). Menteri Muda Dalam Negeri Mr. Harmani diutus ke Semarang untuk melakukan pelantikan. Diadakan di markas Brigade 49 tentara Sekutu, peristiwa ini dianggap sekaligus menandai pengakuan de facto Sekutu atas Republik Indonesia.

    Ichsan mengemban amanah ini dengan berbagai keterbatasan, seiring berkecamuknya konflik antara Indonesia dan Belanda. Apalagi pada 17 Mei 1946 Belanda dapat merebut dan menguasai Semarang. Puncaknya pada 3 Juni 1946, Ichsan ditangkap dan dipenjara. Setelah 18 hari, beliau sempat dilepaskan, namun ditangkap kembali pada 1 Juli 1946 karena dituduh aktif menjalin komunikasi dengan pihak Republik di luar Semarang untuk merencanakan penyerangan. Beliau baru benar-benar dibebaskan pada 11 Oktober 1946.

    Pada 14 Juli 1947, Ichsan dipanggil pemerintah RI di Yogyakarta untuk mengisi jabatan pos wakil Sekretaris Negara. Tugasnya saat itu termasuk menjadi sekretaris pribadi presiden dan juga kepala rumah tangga kepresidenan. Antara 1953 hingga 1960, beliau menjadi Duta Besar Indonesia untuk Swedia dan Thailand. Di penghujung pemerintahan Soekarno, beliau diangkat sebagai Sekretaris Negara dan mendapatkan Bintang Mahaputera Adipradana berdasarkan Keppres No.21/BTK/TH.1966; Tanggal 17 Agustus 1966.

Mochammad Ichsan wafat pada 16 Juni 1991, sebagai bentuk apresiasi atas jasa beliau, Pemerintah Kota Semarang membangun patung Moch Ichsan di atrium center kompleks Balai Kota Semarang, termasuk mengabadikan nama beliau pada salahsatu gedung di kompleks Sekretaris Daerah dan Balai Kota Semarang.

Sumber Rujukan : Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang